Jadwal shift kerja 24 jam membantu perusahaan menjaga ketersediaan tenaga selama kegiatan operasional berlangsung sepanjang hari. Sistem ini umumnya membagi karyawan ke dalam beberapa giliran sehingga pekerjaan tetap berjalan dari pagi hingga kembali ke pagi berikutnya.
Perusahaan dapat menggunakan tiga shift atau pola lain sesuai kebutuhan. Namun, HR tidak cukup hanya membagi 24 jam menjadi beberapa periode. Jumlah tenaga, kompetensi karyawan, waktu istirahat, hari libur, dan kebutuhan pada setiap jam juga perlu mendapat perhatian.
Oleh sebab itu, perusahaan perlu menyusun pembagian secara terstruktur. Pengaturan yang jelas membantu menjaga kebutuhan tenaga sekaligus memberikan informasi waktu kerja kepada setiap karyawan.
Pembagian Waktu untuk Operasional 24 Jam
Dalam jadwal shift kerja, perusahaan dapat menentukan beberapa giliran untuk mencakup seluruh waktu operasional. Sebagai simulasi, perusahaan dapat menggunakan tiga periode berikut:
Shift Pagi: 07.00–15.00
Shift Sore: 15.00–23.00
Shift Malam: 23.00–07.00
Pembagian tersebut hanya menjadi contoh. Perusahaan perlu menyesuaikan durasi kerja, waktu istirahat, pola hari kerja, serta ketentuan yang berlaku.
Selanjutnya, HR perlu menghitung kebutuhan tenaga pada masing-masing periode. Jumlah pekerja tidak harus sama karena tingkat aktivitas dapat berubah sepanjang hari.
Misalnya, perusahaan dapat menempatkan lebih banyak tenaga pada sore hari ketika aktivitas meningkat. Sementara itu, shift malam dapat memiliki jumlah berbeda apabila beban operasional lebih rendah.
Atur Komposisi Tenaga pada Setiap Shift
Jumlah karyawan bukan satu-satunya faktor yang perlu HR pertimbangkan. Perusahaan juga perlu memperhatikan kemampuan dan tanggung jawab setiap pekerja.
Setiap giliran sebaiknya memiliki personel yang mampu menjalankan tugas utama. Misalnya, perusahaan dapat menempatkan supervisor atau pekerja berpengalaman pada setiap periode sesuai kebutuhan.
Selain itu, HR perlu mempertimbangkan hari libur ketika menentukan komposisi. Jangan sampai beberapa pekerja mengambil libur pada waktu yang sama hingga membuat satu shift kekurangan tenaga.
Perusahaan dapat membuat kelompok kerja untuk mempermudah pengaturan. Setiap kelompok kemudian mengikuti pola giliran yang sesuai dengan kebutuhan operasional.
Jaga Pergantian Antarshift Tetap Teratur
Operasional 24 jam membutuhkan koordinasi ketika satu kelompok menyelesaikan giliran dan kelompok berikutnya mulai bekerja. Pergantian tersebut menjadi bagian penting dalam menjaga kelanjutan pekerjaan.
Tim sebelumnya dapat menyampaikan informasi mengenai pekerjaan yang masih berjalan, kondisi tertentu, atau tugas yang perlu tim berikutnya lanjutkan. Dengan begitu, pergantian tenaga tidak memutus informasi penting.
HR juga perlu mengatur perubahan jadwal melalui prosedur yang jelas. Ketika karyawan mengajukan izin atau pertukaran shift, perusahaan perlu memeriksa kebutuhan tenaga terlebih dahulu.
Setelah menyetujui perubahan, HR perlu memperbarui jadwal utama. Langkah tersebut membantu seluruh anggota tim menggunakan informasi yang sama.
Pantau Kehadiran Selama Operasional 24 Jam
Perusahaan perlu mencatat kehadiran setiap karyawan untuk mengetahui pelaksanaan giliran pagi, sore, dan malam. Catatan tersebut juga membantu HR mengelola administrasi waktu kerja.
Penggunaan aplikasi absensi dapat membantu perusahaan mencatat waktu masuk dan keluar pekerja secara lebih terstruktur. HR kemudian dapat melihat data kehadiran bersama jadwal masing-masing karyawan.
Selain itu, perusahaan dapat mengevaluasi kebutuhan setiap shift berdasarkan kondisi operasional. Jika satu periode sering membutuhkan tambahan tenaga, HR dapat mempertimbangkan penyesuaian pada jadwal berikutnya.
Evaluasi berkala membantu perusahaan menjaga pembagian tenaga tetap sesuai dengan perubahan aktivitas sepanjang hari.
Kesimpulan
Jadwal shift kerja 24 jam membantu perusahaan membagi tenaga ke dalam beberapa giliran agar kegiatan operasional dapat berlangsung sepanjang hari. Perusahaan dapat menggunakan tiga shift atau pola lain sesuai kebutuhan masing-masing.
HR perlu memperhatikan jumlah tenaga, kompetensi, hari libur, pergantian antartim, perubahan jadwal, dan pencatatan kehadiran. Dengan pengaturan yang terstruktur, perusahaan dapat menjaga ketersediaan pekerja pada setiap periode sekaligus memberikan informasi giliran yang jelas kepada karyawan.

